Ulasan Media: Apa Kata Mereka tentang Persija?

Persija Jakarta tidak pernah luput dari pemberitaan media, baik lokal maupun nasional. Apa saja pendapat dan opini para petinggi media olahraga mengenai Macan Kemayoran selama satu musim ini? Berikut ulasan singkat mereka:

Andi Sururi ( @sururi10 ) – Redaktur Pelaksana Detiksport

Persija Jakarta adalah klub besar di tanah air tidak diragukan lagi – di manapun posisinya di klasemen akhir. Saya melihat, baik manajemen maupun The Jakmania selalu bersemangat dan menggebu-gebu mencitrakan hal tersebut, dan saya mengapresiasi komitmen itu.

Di luar lapangan, di musim ini Persija diuji dengan konflik “dualisme” (nama) klub dan attitude sebagian pendukung fanatiknya. Khusus untuk poin kedua, saya rasa salah satu tantangan terbesar Persija adalah membuktikan secara bertahap bahwa sebagian suporternya bisa mematahkan sebuah “citra” lain di mata masyarakat, yang boleh jadi berkonotasi tak seperti yang dicita-citakan teman-teman di Persija.

Dan tentu saja, dengan reputasi tim yang dimiliki, saya berharap Persija juga bisa menjadi pionir untuk perbaikan dunia persepakbolaan di Indonesia, selalu bisa bersikap arif dan cerdas dalam menghadapi setiap masalah yang dihadapi – to be a great club with the great supporter. Sukses terus untuk Persija.

Bima Said ( @bimasaid ) – Pemimpin Redaksi GOAL.com Indonesia

Musim sebelumnya, Persija finis di peringkat ketiga, tapi kali ini harus puas di posisi lima klasemen akhir. Meski turun dua tangga, bukan berarti ‘The Real Macan Kemayoran’ mengalami kemunduran. Dari pengamatan kami di GOAL.com edisi Indonesia, tidak terlihat banyak kekurangan dalam performa Persija musim ini. Bisa jadi faktor laga kandang yang cukup banyak di luar ibu kota justru menyebabkan penampilan tim tidak terlalu maksimal. Setidaknya dengan anggaran yang ketat, manajemen bisa memperhatikan hal-hal yang lebih penting yang dapat menguntungkan klub secara jangka panjang, terutama lewat pembinaan bibit-bibit muda. Terjadi peremajaan skuat dengan beberapa pemain dari U-21 musim sebelumnya yang menembus tim senior 2011/12.

Manajemen yang ada sekarang ini perlu dipertahankan hingga musim-musim berikutnya. Dengan membangun filosofi permainan yang disertai program jangka panjang pembinaan potensi muda, bukan tidak mungkin Persija meraung jadi ‘The Real Macan Asia’ dalam 5-10 tahun ke depan sekaligus acuan terbaik bagi klub-klub lainnya di Indonesia. Saran saya pribadi, bagaimana kini manajemen berpikir ‘out of the box’ untuk hal-hal tertentu, seperti menjajaki kerja sama dengan klub luar yang lebih maju untuk proses pembelajaran, sebagaimana dilakukan klub Thailand Chonburi FC dengan klub Jepang Vissel Kobe. Suatu hal yang jelas: Persija saat ini berada di jalur yang tepat.

M. Yusuf Kurniawan – Pemimpin Redaksi TopSkor

Persija musim ini tak jauh berbeda dengan Persija musim-musim sebelumnya. Performa Persija masih tidak konsisten di lapangan. Kualitas pemain utama dan pemain pelapis tidak merata. Alhasil, skema permainan yang diusung oleh tim pelatih tidak berjalan sesuai rencana. Salah satu kekurangan Persija yang paling gampang terlihat: tidak memiliki leader sekaligus pengatur serangan sekelas Firman Utina di Sriwijaya atau Zah Rahan di Persipura. Ketika terakhir kali Persija jadi kampiun Liga Indonesia pada 2001, mereka memiliki Luciano Leandro sebagai jenderal lapangan tengah. Setelah itu, belum ada lagi.

Lalu, dari aspek non-teknis, ini yang paling dominan pengaruhnya, yakni kesulitan Persija menggelar partai kandang di rumah sendiri (Jakarta). Akibatnya, Persija banyak kehilangan poin-poin penting yang semestinya dapat mereka amankan. Kemudian, seretnya pembayaran hak-hak pemain, juga membuat motivasi berlatih dan bertanding para pemain “Macan Kemayoran” tidak utuh lagi. Untuk musim depan, masalah-masalah tersebut tak boleh lagi jadi kendala jika Persija masih punya ambisi jadi juara. Tim ini bukan saja butuh peremajaan, namun juga pemain-pemain berkarakter petarung di lapangan.

Jalu Wirajati ( @kangjalu ) – Digital & Online Editor SOCCER

Buat saya yang baru melek sepak bola pada 1980-an, klub sepak bola sejatinya merupakan identitas kota atau wilayah tempat klub tersebut berdomisili. Saat itu, saya kagum dengan Persija yang diperkuat sejumlah pemain berbakat, sebut saja Kamarudin Betay, Rahmad Darmawan, hingga Tony Tanamal. Namun, saat itu, saya melihat ada yang kurang dari Persija. Dukungan penonton!

Dibandingkan PSMS, Persebaya, atau Persib yang menembus semifinal 1989, pendukung Persija bisa dikatakan tamu di kandang sendiri. Sebuah hal yang cukup disayangkan. Setelah sempat mengalami stagnasi prestasi, saya kagum dengan Persija menjelang akhir 1990-an. Beberapa bintang yang datang seiring prestasi yang menanjak membuat Persija mulai bisa menjadi tuan rumah di kotanya sendiri. Persija sebagai perlambang Jakarta mulai terbentuk.

Dua musim terakhir, saya melihat Persija mulai bisa kembali ke khitah, sebagai lumbung pencetak talenta-talenta berbakat sepak bola. Semoga saja hal tersebut bisa terus dipertahankan.

Atasi Persik Demi Muluskan Langkah 8 Besar

Atasi Persik Demi Muluskan Langkah 8 Besar

Setelah mengalami kekalahan pada laga tandang melawan Persik Kediri lalu, Pelatih Persija Jakarta optimis memenangkan pertandingan kandang pada Jum’at besok (30/05).

“Cara mengalahkan Persik Kediri dengan mengatasi kelebihan mereka,” Ucap …

baca selengkapnya »

Persija Menunggu Keputusan Akhir

Persija Menunggu Keputusan Akhir

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur menunda hasil putusan akhir hingga 23 Oktober mendatang dikarenakan belum sempurnanya berkas.

Sidang pertama kasus intervensi Persija yang digelar Rabu 7 Desember 2011 di …

baca selengkapnya »

7 Pemain Persija Tetap Dipertahankan

7 Pemain Persija Tetap Dipertahankan

Persija Jakarta secara resmi mengumumkan beberapa pemain yang akan tetap memakai kostum Macan Kemayoran pada musim Indonesia Super League 2015 mendatang.

7 pemain yang tetap dipertahankan adalah:

1. Andritany Ardhiyasa…

baca selengkapnya »